Wahai Engkau Maha pemberi Rizki yang baik, hari ini bertambahlah rasa syukurku kepada-Mu. Terimakasih atas segala nikmat yang telah Engkau berikan selama aku bernafas dalam duniaMu.
sore itu saya sedang mencoba mendeskripsikan makna dibalik kenikmatan.
Tepatnya di Kota baru, disebuah tempat makan yang sederhana namun ramai akan pengunjung. sore itu saya bersama sahabat saya, sebut saja 'bundo' sedang menunggu waktu berbuka puasa (critanya lagi ngabuburit). Bukan pemandangan yang mengasingkan memang, disepanjang lesehan tempat pengunjung menyantap makanannya terdapat beberpa orang yang memanfaatkan momen ini untuk mengais 'rezeki'.
saat itu sya melihat seorang gadis kecil berbaju kuning yang membawa satu kotak berisi recehan, dia berjalan dari ujung ke ujung untuk mengumpulkan receh demi receh setiap harinya. ya, hari ini merupakan kedua kalinya saya bertemu gadis ini, tingkah yang sama. selalu mendekati pengunjung, bermain - main didepannya untuk meminta sebagian rezeki yang dimiliki oleh pengunjung.
melihatnya kembali hari ini mengingatkan saya akan pertemmuan kami satu tahun yang lalu. Saat itu iba hati saya melihat gadis sekecil ini sudah mengais rezeki dengan cara semacam ini. jujur saja, gadis itu tampak lusuh, tak terawat, dan tata bicaranya seperti seorang gadis yang tak pernah diajarkan bagaimana cara bicara yang baik. saat itu saya membagi nasi goreng yang saya miliki dengan si gadis. benar saja, ia tampak lahap memakan nasi goreng yang tinggal beberapa suap itu.
hari ini saya kembali bertemu dengannya,
tidak banyak yg berbeda dengan apa yang ia lakukan, namun hari ini teman saya banyak berkomunikasi dengan si gadis. Dan hari ini saya dapat melihat serta merasakan apa yang gadis ini rasakan
seperti itulah ekpresi si gadis ketika bercerita panjang lebar. Namanya Mu'ah (kalo gag salah). dia punya ibu, satu adik dan dua orang kakak. Ayahnya? dia bilang ayahnya sudah mati. bergetar hati ini ketika kalimat tersebut keluar dari mulut si gadis. Dia bekerja seperti ini mulai jam 6 sore hingga jam 2 pagi. ibunya menunggunya di pojok trotoar bersama adiknya yang masih balita. kakaknya entah ada dimana. Yang dia katakan dia sangat menyayangi ibu nya dan teman - temannya. Dia bilang, dia gak mau kerja, kepengen sekolah tapi uangnya buat makan (spechless)
Gadis ini merupakan tulang punggung keluarga. gadis yang masih berumur 4 tahun. Ingatkah apa yang kita lakukan diusia kita yg masih 4 tahun? Sekolah, main, punya banyak teman, berada di pelukan kedua orangtua yang selalu mencurahkan kasih sayangnya. sedangkan apa yang terjadi dengan gadis ini? bagaimana bisa anak sekecil itu orientasinya sudah uang? saya bisa
mengerti jika kebutuhan akan uang didorong oleh rasa lapar, namun mereka perlu didampingi untuk menyongsong
kehidupan mereka secara mandiri ke arah yang lebih baik dengan
cara-cara yang baik pula.
Sekian kisah gadis kecil berbaju kuning, semoga kisah ini menambah rasa syukur kita kepada sang Khaliq.amiin :)
























